Sabtu, 30 Juni 2012

Yuk Wisata Kuliner ke Solo……



Berwisata ke suatu tempat belumlah lengkap tanpa mencicipi makanan khas daerah tersebut. Kadang-kadang sepiring hidangan dapat bercerita banyak hal tentang kehidupan masyarakat setempat, mulai dari selera, budaya, hingga semangat hidup mereka.
Solo adalah salah satu kota tujuan wisata kuliner yang sungguh asyik. Dengan anggaran seperti apapun, kita selalu dapat memilih makanan, jajanan, dan minuman yang asyik. Istimewanya lagi, Solo adalah sebuah kota yang secara kuliner tetap hidup sepanjang hari – 24 jam.
Tepat di pintu masuk Pasar Gede, kita akan menemukan seorang penjual minuman khas Solo yang disebut gempol pleret, bola-bola dari tepung beras, dan semacam kripik dari tepung ketan, dalam kuah santan encer – disajikan panas atau dingin sesuai keinginan.
Di bagian tengah pasar juga ada penjual dawet telasih (selasih) yang sangat populer. Dawet atau cendolnya berwarna putih, dibuat dari tepung beras, disajikan dengan sesendok bubur sumsum, bubur ketan hitam, dan tape nasi berwarna hijau. Diguyur kuah santan encer dan gula merah yang direbus dengan nangka.
Tidak jauh dari tempat dawet telasih, ada dua penjual jajanan pasar yang ramai diantre pelanggannya. Kebanyakan jajanannya dibuat dari singkong: getuk, gatot, cetot, sawut, dan lain-lain. Juga ketan hitam, ketan kukus, klepon, jongkong, dan berbagai jenis jajanan pasar yang sudah semakin langka.
Bila Anda penggemar pecel, di sini juga ada penjaja pecel bumbu wijen. Berbagai jenis bumbu pecel kering juga siap diborong sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang. Tidak jauh dari situ, juga ada penjual bermacam bothok dan pepes. Jangan lewatkan cabuk, yaitu pepes dari wijen yang berwarna hitam karena wijen-nya dibakar dulu. Hati-hati bila menyantapnya karena bibir dan mulut bisa menjadi hitam. Ada lagi “ranjau” lain yang bernama gembrot – bothok parutan kelapa dan daun sembukan – yang bisa membuat pemakannya terus-menerus buang angin.
Ayam dan bebek goreng adalah hidangan standar yang populer dan hadir dalam begitu banyak versi. Di sekitar Solo-Yogya, kebanyakan ayam dan bebeknya sudah diungkep dengan bumbu dan direbus sampai empuk, sebelum kemudian digoreng garing dengan sambal yang kebanyakan bernuansa manis.
Untuk ayam goreng, yang paling populer adalah Ayam Goreng Kampung Mbah Karto (Jl. Jaksa Agung R. Suprapto 8, Sukoharjo, 0271 7080464). Agak di luar kota, tetapi tidak rugi untuk dikunjungi. Ayam gorengnya empuk, lembut, dan sangat gurih. Mak nyuss!
Bila Anda memasuki Solo dari arah Semarang, di mulut kota Anda sudah disambut dengan Ayam Goreng Kleco (Jl. A. Yani 376, Kartasura, 0271 740201). Popularitas Kleco menggeser Ayam Madukoro (Jl. Ahmad Yani 300, Gembongan) maupun Ayam Suharti (Jl. Kartasura, Pabelan) yang merupakan ikon di masa lalu. Ayam Goreng Kleco mengandalkan ayam kampung goreng/bakar yang mak nyuss!
Bagi penggemar ayam bakar, jangan lewatkan Ojo Gelo (Jl. Slamet Riyadi 426, 0271 716270). Ayamnya direbus dengan bumbu bacem (asam jawa, gula merah, bawang putih, ketumbar) yang kemudian dibakar agar garing di bagian luarnya.
Ada lagi ayam goreng unik yang dimasak secara lain dari yang lain, yaitu Ayam Tim Dewi Sri Ibu Better (Wetan Palang Palur, 0271 826019, dan Jl. Yosodipuro 135, 0271 742715). Ayamnya dibumbui, lalu dikukus (tim) sampai matang dan empuk. Dengan cara kukus ini, bumbu-bumbunya meresap ke dalam. Sesaat sebelum disajikan, ayam kukus ini digoreng, sehingga menciptakan bagian yang renyah di luar. Sayur asemnya yang nyamleng, dan tahu/tempe bacem dapat dipilih sebagai pendamping yang cocok.
Satu lagi ayam jagoan di Solo dapat ditemukan di RM Adem Ayem (Jl. Brigjen Slamet Riyadi 342, 0271 726992/712891). Ayam gorengnya empuk dan gurih. Sebetulnya Adem Ayem lebih dikenal dengan gudegnya yang khas. Almarhum Iwan Tirta dulu sering memesan gudeg dari Adem Ayem untuk jamuan makan di rumahnya. Gudegnya tidak terlalu manis, dan irisan nangka mudanya masih besar-besar dengan tekstur yang sangat khas.Untuk bebek goreng, Solo – menurut saya – mempunyai Juara Indonesia, yaitu
Bebek Pak Slamet  (Jl. Sedahromo Lor, Kartasura, 0271 781597, Goro Assalam, Pabelan, di batas kota arah ke Semarang, 0812 2649997, dan di Jl. Bhayangkara 39B, Tipes, 0271 723439). Bebek gorengnya sungguh gurih dan empuk, dengan sambal korek yang pedasnya cadas. Sekarang Bebek Slamet sudah buka cabang di banyak kota Indonesia.
Satu masakan ayam yang sangat saya sukai adalah garang asem, yaitu potongan daging ayam kampung dengan bumbu minimalis – cabe rawit, bawang putih, blimbing wuluh atau tomat hijau – dibungkus daun pisang, kemudian dikukus. Hasilnya adalah ayam yang sangat empuk, gurih, dengan toneasam-pedas-segar yang sungguh memukau. Garang asem paling enak di Solo bisa dijumpai di Warung Mbah Semar (Jl. Adisumarmo 14, Ngabeyan, Kartasura, 0271 781244). Istimewa! Garang asemnya memakai telur ayam kocok. Wajib coba! Juga ada pis kopyor yang cocok sebagai kudapan manis.Garang asem juga banyak dijumpai di warung soto atau pecel di seluruh Solo.
Soto dan Timlo Solo mempunyai beberapa juara di bidang persotoan. Favorit saya adalah Soto Kirana (Jl. Prof. Dr. Moh. Yamin 68, Kawatan, 0271 667095, dan di Jalan Raya Solo Baru 27, Tanjunganom, 0271 620151). Selain soto ayam, juga tersedia soto sapi, dengan berbagai lauk-pauk yang lezat.
Setara dengan Soto Kirana adalah Soto Triwindu (Jl. Teuku Umar 41, 646006). Banyak penggemarnya. Porsi dagingnya generous. Juga dengan kelengkapan lauk-pauk yang irresistible.
Di batas kota, di daerah Kartasura, juga ada dua soto juara yang hampir bersebelahan satu sama lain. Yang pertama adalah Soto Ledokan (Jl. Ahmad Yani, Kartasura, sebelah Barat Terminal Lama). Ada hiburan pemusik keroncong di warung ini. Tidak jauh di sebelahnya ada RM Nikmat Sari (Jl. A. Yani 137, Kartasura, 0271 780642). Terkenal dengan soto babat-nya. Tetapi, sebetulnya, di sini saya lebih suka babat gongso (masakan khas Semarang) yang empuk dan gurih. Soto yang juga populer di Solo adalah Soto Gading (Jl. Brigjen Sudiarto 75, 0271 665526, Jl. Veteran 285, 0271 724708, dan di Jl.Brigjen Sudiarto 85, 0271 642142).
Pelopor timlo adalah RM Timlo Solo (Jl. Jenderal Urip Sumoharjo 94, 646180). Tetapi, timlo yang paling populer di Solo adalah Timlo Sastro (Jl. Pasar Gede Timur 1, Balong, 654820). Versi Timlo Sastro memakai sosis solo dalam ukuran super jumbo. Di warung ini, ada sekelompok pemusik kroncong lengkap. Asyik banget.Monggo dipilih! Mau soto atau timlo.
Sate, Gule, Tongseng, dan Tengkleng
Warga Solo sangat suka masakan kambing, khususnya sate. Hampir semua penjual sate kambing juga menjual gule dan tongseng. Tetapi, yang paling khas adalah sate buntel – dibuat dari daging kambing cincang, dibumbui, dibungkus dengan lemak tipis sehingga menyerupai sosis atau kofta, lalu dibakar sebagai sate. Bumbunya kecap manis dengan rajangan cabe, tomat, kol, dan merica. Di Solo, kebanyakan sate disajikan dengan cara dilolos dari tusukannya.
Tongseng adalah semacam gule dengan bumbu yang lebih pekat dan pedas, disajikan a la minute– artinya, dibuat berdasarkan pesanan. Dagingnya diambil dari sate, ditambah kol dan tomat. Tongseng hadir dalam berbagai kepekatan, mulai dari encer sampai yang kental. Tongseng yang kental-pekat disebut klenyer.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More